Kamis, 20 September 2012

MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI KITA TANPA SYARAT ?

Cerita ini kisah hidup nyata dari Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management, yang sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment. Beliau sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia.

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam yakni 58 tahun. Kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit dan juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.Setelah istrinya melahirkan anak ke-4, disinilah awal cobaan menerpa, tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan hingga terjadi selama 2 tahun. Di tahun ketiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak, bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Terbaring diatas tempat tidurnya sepanjang hari.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Beruntungnya tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang, sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dalamnya dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian..
Walau istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka. Sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu inilah yang masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk Ibunya, karena setelah mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2. Hanya Pak Suyatno memutuskan Ibu mereka dia yg merawat tanpa orang lain pun, yang dia inginkan hanya satu … semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2, anak yg sulung berkata "Pak, kami ingin sekali merawat Ibu. Semenjak kami kecil melihat Bapak merawat Ibu tidak ada sedikit pun keluhan keluar dari bibir Bapak. Bahkan Bapak tidak ijinkan kami menjaga Ibu". Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "Sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan Bapak menikah lagi, kami rasa Ibupun akan mengijinkannya, kapan Bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat Ibu sebaik-baik secara bergantian …"

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka. "Anak2ku … Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah lagi … tapi ketahuilah dengan adanya Ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian … ", sejenak kerongkongannya tersekat, "… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya Ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini ?"
"Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak bisa bahagia meninggalkan Ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan Ibumu yg masih sakit. Siapa yang akan merawatnya dengan sepenuh cinta dan tulus hati ? "
Sejenak meledaklah tangis anak2 dan semua memeluk Pak Suyatno dan istrinya itu. Merekapun bahagia dengan melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat sendiri Istrinya yg sudah tidak bisa apa2. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.
"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2 … " … " Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama … dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit … Hanya dia adalah hidup dan cintaku di dunia "

http://herinoto.com/mampukah-kita-mencintai-istri-kita-tanpa-syarat.php

Tidak ada komentar: